Selasa, 29 November 2011

PUISI

Posted by : Dewi Kurnia Madya N di 18.43

Di sebalik kebenaran


Adakah benar dalam kehidupan
mereka yang mencari kebenaran
lidah petah bicara harapan
tapi hatinya jauh dari kebenaran
Siapa berjalan di atas duri
pasti merasa sakitnya kaki
begitulah dunia hari ini
setiap manusia akan lalui
Masa berjalan setiap hari
walaupun hampir kiamat dunia ini
maksiat takkan hapus ke hari ini
jika dakwah seperti ambia tidak di lakukan lagi
Manusia gila mencari nama
harta rebutan tak kira nama
maksiat pula bermaharajalela
siapa “Dia” mukmin di dunia
Lidah mudah menginsafi
tapi hatinya dusta setiap hari
kaki melangkah menuju illahi
renunglah untuk diri sendiri
Wahai insan mengaku dirinya bersih
lihat dan cerminlah diri sendiri
Adakah kamu sebaik nabi
berkorban demi agama sendiri
Cerminlah…


Setengah Matiku


Bulan penuh utuh terang utuh
Malam menyingkap tabir gelap pekat
Tersudut aku bertekuk, menunduk
Bintang sinaran kian jauh kemilau
Semilir angin mengiris gamang membelit ini diri
Tak kuasa aku menahan s’gala beratnya kini
Diam tak selamanya terpuruk di sanubari
Langit pekat gelap t’lah buatku memapah merebah tanah
Tak kuat hati suarakan pergulatan rasa
Ujar tak mampu mencerca merdu dalam kalbu
Meraih semua ku tak bisa!
Masa beriring jarak berjalan seiring suasana lara
t’rus meregkuh itu t’rasa dekat
Biarkan kusuarakan lewat rasa
Rasa tak bersuara berlari kembali
Lirih suara malam bisikan dinginnya aku
Bersarang dalam dinding rindu
Lukisan kalbuku terpampang layu
Rintik tetesan hujan bertabur rindu
Kubuka tangan, kusambut dirimu kan kembali
Waktu tak mau kuputar melaju maju
Lama berhias jenuh tak kuasa tersapu
Termangu menunggu di tengah gemuruh galau
Ingin berkelok
Waktu periku, tak bisakah kau lepas
Lepas dari lintasan pasti
Waktu berjalan berlari
Periku berlari kembali
Setengah matiku kulemparkan, kutambatkan padamu

0 komentar:

Posting Komentar

PUISI

Di sebalik kebenaran


Adakah benar dalam kehidupan
mereka yang mencari kebenaran
lidah petah bicara harapan
tapi hatinya jauh dari kebenaran
Siapa berjalan di atas duri
pasti merasa sakitnya kaki
begitulah dunia hari ini
setiap manusia akan lalui
Masa berjalan setiap hari
walaupun hampir kiamat dunia ini
maksiat takkan hapus ke hari ini
jika dakwah seperti ambia tidak di lakukan lagi
Manusia gila mencari nama
harta rebutan tak kira nama
maksiat pula bermaharajalela
siapa “Dia” mukmin di dunia
Lidah mudah menginsafi
tapi hatinya dusta setiap hari
kaki melangkah menuju illahi
renunglah untuk diri sendiri
Wahai insan mengaku dirinya bersih
lihat dan cerminlah diri sendiri
Adakah kamu sebaik nabi
berkorban demi agama sendiri
Cerminlah…


Setengah Matiku


Bulan penuh utuh terang utuh
Malam menyingkap tabir gelap pekat
Tersudut aku bertekuk, menunduk
Bintang sinaran kian jauh kemilau
Semilir angin mengiris gamang membelit ini diri
Tak kuasa aku menahan s’gala beratnya kini
Diam tak selamanya terpuruk di sanubari
Langit pekat gelap t’lah buatku memapah merebah tanah
Tak kuat hati suarakan pergulatan rasa
Ujar tak mampu mencerca merdu dalam kalbu
Meraih semua ku tak bisa!
Masa beriring jarak berjalan seiring suasana lara
t’rus meregkuh itu t’rasa dekat
Biarkan kusuarakan lewat rasa
Rasa tak bersuara berlari kembali
Lirih suara malam bisikan dinginnya aku
Bersarang dalam dinding rindu
Lukisan kalbuku terpampang layu
Rintik tetesan hujan bertabur rindu
Kubuka tangan, kusambut dirimu kan kembali
Waktu tak mau kuputar melaju maju
Lama berhias jenuh tak kuasa tersapu
Termangu menunggu di tengah gemuruh galau
Ingin berkelok
Waktu periku, tak bisakah kau lepas
Lepas dari lintasan pasti
Waktu berjalan berlari
Periku berlari kembali
Setengah matiku kulemparkan, kutambatkan padamu

0 komentar:

Posting Komentar

 

❤ Designed by Rinda's Template ❤ Image by KF-Studio ❤ Author by Your Name Here :)